Dahulu ada mereka orang-orang sebelum kita
Kini ada kami orang-orang di hadapan kalian
Dan nanti ada kalian orang-orang setelah mereka dan kami

Perkumpulan ini tidak hanya sekedar tempat melepas lelah setelah kuliah atau menunggu kuliah
Perkumpulan ini tidak hanya sekedar menjadi identitas diri
Tapi perkumpulan ini mempunyai tujuan yang lebih dari itu

Terdapat hak yang harus didapatkan
Terdapat kewajiban yang harus dilaksanakan
Serta cita-cita & mimpi yang harusnya tumbuh dan berkembang

Perkumpulan ini terus berjalan selaras dengan massanya yang mengalir
Dengan segala problematika & dinamika yang harus dicari solusinya
Sehingga perkumpulan ini takkan stagnan dan terus progresif

Setiap hal dimulai dengan bersama-sama berpikir
Dilanjutkan dengan bersama-sama bergerak
Karena berpikir tanpa bergerak tidak akan menghasilkan karya nyata

Malas dan lupa adalah sifat manusia
Saling mengingatkan menjadi hal yang terus menutupi kekurangan tersebut
Maka dari itu menjadi salah satu implementasi kata “bersama”

Semuanya akan berjalan lancar dengan dimulai oleh kesadaran
Akan menjadi lebih mudah dengan adanya pembagian peran
Dan menjadi lengkap dengan komunikasi yang tak henti serta transfer yang tak putus

Jangan pernah melupakan apa yang pernah dilakukan orang-orang sebelum kita
Tetap mencoba belajar dari apa yang kami lakukan sekarang
Karena nanti di tangan kalianlah tongkat estafet perkumpulan ini harus tetap diperjuangkan

Untuk terus mempertahankan tujuan & cita-cita luhur pendiri perkumpulan ini
Untuk terus melangsungkan perjalanan adik-adik kita di perkumpulan ini
Majesty, Unity, Glory (Kemuliaan, Kesatuan, Kejayaan)

Kami Mahasiswa Material
Kuat, tangguh, dan bersemangat
Di mana saja kami selalu siap mengabdi dan berbakti

Salam Metal !!!

akhirnya bisa ke Bandung juga, ya..setelah 2 minggu KP di Karawang, gw mo istirahat di Bandung walaupun cuma satu setengah hari, sekalian melepas rasa kangen dengan kampus dan orang-orang di dalamnya, eh sekalian rapat kongres juga deh jadinya

hmm..sebenernya ada hal yang menarik perhatian gw di saat ke Bandung. Ada tiga hal tepatnya. Pertama, ketika gw menaiki bis trayek Karawang-Bandung, gw melihat seorang ibu dengan 2 anak kecil. Wah, jadi terharu gw, terlepas dari jarak perjalanannya dan repot atau tidaknya beliau. Jadi teringat ibu gw sendiri deh, bagaimana beliau membesarkan empat anaknya dulu saat ayah gw merantau. Memang seorang ibu adalah manusia yang tangguh, salut gw. Setelah melihat ibu dengan 2 anaknya itu, gw berpikir suatu saat nanti ingin tidak hanya mencari istri tapi juga mencari ibu untuk anak-anak gw :D

Kedua, ketika menaiki bis trayek leuwipanjang-dago, gw melihat anak kecil yang mengamen di dalam bis. Seorang bocah perempuan yang usianya sekitar 4-5 tahun. Iba melihat dia jadinya dan ingin memberikan recehan (walaupun jika recehan itu tidak cukup untuk membeli makanan). Tetapi, gw langsung teringat dengan realita yang banyak terjadi. Uang yang dikumpul anak tersebut akan diberikan ke orang tuanya atau preman yang melindunginya (walaupun anak tersebut tetap mendapat jatah, tapi itu paling untuk membuat anak tersebut dapat mencari uang lagi keesokan harinya). Dilematis memang, di satu sisi, apabila anak tersebut mendapatkan uang, maka akan dipekerjakan terus. Jelas ini melanggar fitrah seorang anak. Di sisi yang lain, apabila anak tersebut tidak mendapatkan uang, ya dia terkena imbas tidak mendapatkan jatah. Itulah realita yang terjadi pada orang miskin. Gw bersyukur sebagai anak, walaupun orang tua gw bukan termasuk orang mampu tapi dia tidak menghilangkan fitrah gw sebagai anaknya. Dan gw yakin itu dikarenakan orang tua gw yang kuat dalam memegang agama, amiin..

Ketiga, dan hal yang terakhir gw perhatikan. Setelah turun dari bis, gw berjalan kaki menuju kost. Saat melewati seorang ibu tua yang duduk lesehan, tepatnya sebelum menuju masjid salman dari arah RS borromeus, beliau coba membunyikan handphone-nya yang sedang digenggam (ibu tua ini adalah seorang pengemis). Bukan maksud gw melarang ibu tua itu mempunyai hp, ya ga lah, sekarang dah jamannya IT, hehe..tapi gw takjub aja yang bisa jadi hp itu dibeli dari hasil mengemisnya. Kalo gt qt mengemis aja yuk, tinggal duduk, dan menengadahkan tangan, hehe. Agama gw, Islam, mengajarkan bahwa mengemis itu tidak disukai. Maaf gw ga sempet cari isi haditsnya, silakan dicari ya, hehe..hadits yang shahih menyebutkan bahwa mencari kayu bakar ke hutan lebih disukai daripada meminta-minta. Ya itulah yang diajarkan agama gw, buat yang ga setuju mari kita berdiskusi. Gw sendiri tidak ingin orang tua gw mengemis, lebih baik gw tidak memberatkan mereka, ok, itulah tentang pengemis yang hanya sekilas

“Sesungguhnya terdapat banyak pelajaran di alam ini bagi orang-orang yang berpikir”

nb: judul ma isinya ga nyambung ternyata

Hijau itu memberikan arti kedamaian di dunia

Hijau merupakan warna burung yang membawa ruh di surga nanti saat menunggu hari kebangkitan

dan

Hijau itu menjadi tanda bagi seorang pemuda yang belum matang a.k.a greenboy, hehe…

ternyata sudah 21 tahun aku tinggal di bumi ini
dan tampaknya aku sedang merasa bosan dengan kehidupan yang sekarang
ingin rasanya menggapai impianku pada bidang geografi yaitu sebagai penjelajah
sayangnya pengalamanku barulah dari Batam sampai Bali

berhenti sejenak di tepi Danau Singkarak
berdiri di atas Jembatan Ampera yang telah usang
merayakan pesta bersama orang-orang Dusun Pasemah Air Keruh
bermain di Pantai Anyer bersama teman-teman

mengitari sebagian Jakarta dengan berjalan kaki
menyusupi Lembang pada dini hari
melihat pernak-pernik kerajinan perak di Kotagede
memandangi Tanah Lot tanpa menapakinya

ah, sayang…
padahal aku ingin lebih, ingin lebih menjelajahi bumi ini sebelum mati
menikmati indahnya alam, merasakan kedamaian di daratan hijau yang luas, dan mendapatkan kesejukan dari lautan biru yang dalam

mulai dari mendaki Gunung Gede Pangrango, ingin kupetik bunga edelweiss yang tumbuh di sana
menunggang kuda di daerah Sumba, daerah yang terkenal dengan padang rumputnya
berlari kecil dari Shafa sampai Marwa, yang ini wajib kalau mampu
bersenda gurau di tepi Sungai Eufrat, sungai yang ikut tertulis dalam sejarah kehidupan manusia

melelahkan kaki di Tembok Besar China, tembok yang mempunyai panjang sekitar 6400 km
membandingkan ukuran tubuh dengan Taj Mahal, bangunan megah di India
berdiri di atas pasir sambil menyentuh bongkahan-bongkahan batu tersusun di Mesir
mendongakkan kepala melihat ujung Menara Eiffel yang menyilaukan di malam hari

mengamati jejak-jejak peninggalan kaum pagan di Yunani
mendekati bangunan aneh yang diperkirakan dibangun pada Zaman Neolitikum, Stonehenge
berziarah ke Yerusalem, kota tempat 3 agama samawi berkumpul
memasuki tempat peribadatan yang berganti dari gereja menjadi masjid di Turki yaitu Hagia Sophia

menatap pelangi yang terbentuk di atas air terjun Niagara, perbatasan antara Amerika Serikat dan Kanada
berpindah dari pulau kecil ke pulau kecil lainnya di daerah Oseania
terperangkap di rawa-rawa Amazon, yang ini sebenarnya ada perasaan takut
sampai memejamkan mata di dalam iglo sambil mengenakan pakaian setebal mungkin

dan masi banyak lagi tempat menarik yang aku sendiri mungkin belum mengetahuinya

tapi sekarang…
itu semua hanya impian dan aku sangat hebat dalam bermimpi, ya..hanya bermimpi
kehidupan yang berkutat pada keadaan sekitar tak ada habisnya dan tak pernah berbeda dari hari ke hari
memang kehidupan yang membosankan

(sudah 2 minggu ini aku merasakan hembusan angin saat memandang kabut pagi yang enggan hilang dari atas persawahan yang luas, persawahan yang tak kelihatan ujungnya sampai di horizon sana, persawahan yang menjadi Kota Pangkal Perjuangan)

ah, padahal sih baru kenal ma dia, belum lama kok. Tapi kok gw langsung tertarik yah?? hmm..jadi makin penasaran dh gw

Yang mantapnya tuh setelah diperhatikan sekilas, dia tampaknya memenuhi 4 kriteria di bawah ini (ini sih baru dugaan gw aj selama memperhatikan dia)

“Wanita itu biasa dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kemuliaan keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya.”

btw, dah lama ga nge-blog, eh sekaliny nge-blog malah curhat gini, hehe…y udah dh laen kali aj nulisĀ  lagi, sekarang nih masalahnya adalah gw jadi kepikiran gara-gara dia.
(^_^)V

Bunda…berada jauh dari bunda bukanlah jalan yang ananda inginkan. Jikalau ada pilihan yang terbaik untuk berada di dekat bunda, pasti ananda takkan pernah lewatkan sedikit pun. Satu hal yang ananda inginkan, dapat berada di sisi bunda sampai takdir memisahkan kita untuk bertemu lagi kelak di kehidupan nanti, amiin. Berada di sisi bunda tanpa sedetik pun terlewatkan tetap tidak mampu menandingi kebaikan bunda saat berada di sisi ananda kurang lebih selama 20 tahun ini.

Air mata mulai menetes saat mengingat jerih payah bunda yang tidak pernah mengeluh sedikit pun. Sejak kecil, ananda bermanja-manja kepada bunda. Ketika ananda sakit, bunda langsung memeluk ananda dan mengkhawatirkan ananda sampai-sampai pekerjaan yang lain ditinggalkan. Tapi, ada hal yang membuat ananda bingung dan kecewa. Ketika ananda menunjukkan prestasi dan kebahagiaan kepada bunda, kenapa bunda terlalu dingin menanggapinya. Hal itu berulangkali sampai ananda menginjak remaja dan membuat ananda tidak terlalu menghormati ibunda lagi.

Saat hidayah islam datang, ananda tersadarkan bahwa manusia yang paling berhak mendapatkan kebaikan adalah ibunda, dan itu diulang 3x oleh Rasulullah saat sahabatnya bertanya. Dari sanalah mulai tersadarkan bahwa sedingin apapun bunda, ananda akan tetap di sisi bunda sampai takdir memisahkan.

Seiring dengan bertambah tuanya bunda, bertambah capai kakinya berjalan untuk mencari uang demi kebutuhan keluarga, ananda harus meninggalkan bunda, ananda tidak dapat berada di sisi ibunda lagi. Air mata pun bercucuran, berisikan kemanjaan dan permohonan maaf. Kini ananda telah jarang berada di sisi Ibunda, senang rasanya saat bisa berbicara dengan bunda dan akhirnya ananda tahu bahwa dibalik sifat dingin tersebut ada rasa bangga dan bahagia bunda terhadap ananda.

“Karena Ibunda adalah Anugerah terindah yang pernah kumiliki”

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
kau datang kembali
dan bicara padaku tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah

Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas hutan-hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup

Soe Hok Gie
Jakarta, 19 Juli 1966

Next Page »